KETIKA AMANAH LEBIH BESAR DARI PERASAAN
Hari ini saya bersama Pdt. Dr. Jootje Luntungan berangkat dari Manado menuju Makaaruyen, Modoinding, Minahasa Selatan untuk melaksanakan amanah dan mandat resmi Majelis Daerah GPdI Sulawesi Utara.
Kami datang bukan membawa kepentingan pribadi, tetapi menjalankan keputusan pleno Majelis Daerah yang telah ditandatangani oleh Ketua Majelis Daerah, Pdt. Ivonne Awuy Lantu, dan Sekretaris Majelis Daerah, Pdt. Hanny Awuy, M.Th.
Sesampainya di Makaaruyen, kami terlebih dahulu menyerahkan surat kepada pihak kepolisian dan pemerintah setempat, kemudian melaksanakan tugas yang dipercayakan kepada kami dengan menyerahkan surat keputusan tersebut kepada Gembala GPdI Filadelfia Makaaruyen, Pdt. Bernard Rattu, S.Th.
Saat hendak meninggalkan lokasi, suasana sempat memanas. Beberapa pihak menghadang kendaraan kami sehingga terjadi perdebatan dan arus lalu lintas sempat terganggu. Namun puji Tuhan, semuanya dapat dilalui tanpa tindakan anarkis dan tanpa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah seluruh tugas selesai, kami melanjutkan penyerahan surat ke pihak Kecamatan dan Kesbangpol sesuai prosedur yang berlaku.
Di tengah perjalanan yang cukup melelahkan itu, Tuhan kembali menunjukkan kasih-Nya. Kami dijamu oleh keluarga-keluarga yang mengasihi pekerjaan Tuhan, diberi berkat, hasil kebun, dan sayur-mayur. Antara lain Keluarga Monoarfa sangkaeng (Bpk Max dan Ibu Els).
Saya juga bersyukur dapat kembali bertemu keluarga Ferry Kaunang dan Ibu Feibe Monde, jemaat yang pernah saya layani saat menggembalakan GPdI El Shaddai Newlife Church Sario hingga tahun 2019. Dari sana kami mengunjungi keluarga Monde Karinda, lalu melanjutkan perjalanan ke GPdI El Shaddai Sinsingon dan bertemu dengan Pdt. Nurlela Rattu Yassin, S.Th.
Perjalanan hari ini juga didukung oleh Calvin (Aping), putra dari Pdt. Dr. Jootje Luntungan, yang setia mengemudikan kendaraan kami sepanjang perjalanan.
Hari ini saya kembali belajar bahwa pelayanan tidak selalu berjalan di jalan yang mudah. Ada saatnya seorang pelayan Tuhan harus menjalankan tugas yang berat, menghadapi tekanan, bahkan kesalahpahaman. Namun ketika sebuah amanah dipercayakan kepada kita, maka kesetiaan untuk menjalankannya jauh lebih penting daripada kenyamanan pribadi.
Karena pada akhirnya, amanah harus lebih besar daripada perasaan.
Tuhan tetap memimpin setiap langkah orang yang setia menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.