Selamat Datang
di Gereja Kami
Menyebarkan Kasih dan Pengharapan — bertumbuh bersama dalam
Firman Tuhan.
Live Streaming tersedia saat jam Ibadah Raya.

Judul : Tiga Mezbah Satu Suara : Tuhan Sedang Mengunci Musim Baru

Bagikan Berita Ini:

Facebook WhatsApp Twitter

Judul: “Tiga Mezbah, Satu Suara : TUHAN Sedang Mengunci Musim Baru”

Kemarin bukan sekadar hari yang padat—kemarin terasa seperti tanda profetik: Tuhan sedang menata wilayah ini, bukan hanya lewat agenda, tetapi lewat arah, api, dan kesetiaan.

Pukul 10.00 sampai selesai, saya memimpin Musyawarah Kerja Wilayah XXXIII Talawaan I Minut bersama rekan-rekan pelayanan Pdt. Dr. C.J. Luntungan, M.Th dan Pdt. Noes Kaligis, M.Th.

Mukerwil ini bukan hanya rapat kerja. Ini seperti Tuhan berkata, “Jangan berjalan karena kebiasaan, berjalanlah karena perintah.” Ketika gembala-gembala disatukan, Tuhan menyatukan langkah—dan saat langkah disatukan, Tuhan mulai membuka pintu-pintu yang selama ini terasa berat.

Malamnya pukul 18.00, saya melayani firman di Rayon Karmel yang ketua nya Pdt Ir Jani Lumape, MT. STh dalam HUT Daniel Rarung dan ucapan syukur dr. Angel Rarung yang baru dilantik/diambil sumpah sebagai dokter, di rumah keluarga Rarung–Sanger di Sario.

Saya percaya ini bukan sekadar acara keluarga. Ulang tahun adalah suara Tuhan: “Aku memperpanjang waktu bukan untuk dihabiskan, tetapi untuk dipakai.” Dan pengutusan sebagai dokter adalah mandat : “Pergi, sentuh luka manusia—tetapi jagalah hatimu, supaya sukses tidak memadamkan rohmu.” Karena profesi tanpa hadirat hanya jadi karier, tetapi profesi yang dipeluk hadirat menjadi misi.

Lalu pukul 19.30, saya lanjut mengikuti ibadah Rayon Torsina yang ketua nya Pdt Fanny Barends, SPsi yang bertempat di Gereja El Shaddai atas nama keluarga Kaligis Batas. Di sini Tuhan menegaskan lagi : "Aku membangun gereja bukan hanya dari mimbar, tetapi dari rumah-rumah.” Kebangunan sering dimulai dari persekutuan sederhana—namun ada api yang dijaga, doa yang setia, dan iman yang dipelihara.

Tiga momen. Tiga tempat. Tiga mezbah : wilayah, rumah, gereja. Dan satu benang merahnya : Tuhan sedang mengunci musim baru. Musim ketika gereja tidak lagi sekadar ramai, tetapi berarah. Tidak lagi sekadar rutin, tetapi menyala. Tidak lagi biasa-biasa, karena Tuhan sendiri yang memimpin langkahnya.

Galeri Foto