Ibadah Pelayanan Wanita Pantekosta (Pelwap) yang digabung bersama Pelayanan Pria Pantekosta (Pelprip) dilaksanakan pada Selasa, 17 Februari 2026, bertempat di Winangun Lembah Sari, a.n. Keluarga Lumape – Karundeng.
Ibadah dipimpin oleh WL Ibu Grace Kalangi, dibuka dalam doa oleh Pdt. Robby Rorong, dan ditutup dengan doa berkat oleh Pdt. Fanny Barends. Doa sebelum pemberitaan Firman dipimpin oleh Pdt. James Wowor.
Pelayanan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Tri L. Joeniawan, MM, M.Th., yang mengambil dasar Firman dari Kejadian 2:7 dengan tema “A Man of Purpose – Pria yang Memiliki Tujuan.”
Kejadian 2:7
Gen 2:7 ketika itulah TUHAN Allah MEMBENTUK manusia itu dari debu tanah dan MENGHEMBUSKAN nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu MENJADI makhluk yang hidup. Perhatikan: Allah tidak menciptakan manusia seperti menekan tombol mesin.
Manusia tidak lahir dari proses mekanis. Manusia adalah hasil karya tangan Allah. Allah tidak menciptakan manusia seperti menekan tombol mesin.” Karena y??ar adalah kata yang “artistik”, bukan kata yang “pabrik”.Manusia tidak lahir dari proses mekanis.
Manusia adalah hasil karya tangan Allah. “Allah tidak menciptakan manusia seperti menekan tombol mesin.” Karena y??ar adalah kata yang “artistik”, bukan kata yang “pabrik”. Manusia tidak lahir dari proses mekanis. Manusia adalah hasil karya tangan Allah.
“Allah tidak menciptakan manusia seperti menekan tombol mesin.” Karena y??ar adalah kata yang “artistik”, bukan kata yang “pabrik”.
Alkitab memakai kata “membentuk” — seperti seorang pengrajin.
- ADA SENTUHAN PERSONAL.
- ADA KETERLIBATAN
- ADA KESENGAJAAN.
Ini bukan sekadar proses biologis. Ini bukan seperti upacara penobatan: manusia diberi hidup bukan hanya dari materi, tapi dari Allah. Dan ini poin besar:
IDENTITAS KITA TIDAK DITENTUKAN OLEH DEBU— TAPI OLEH NAFAS ALLAH.
Debu itu bahan dasar. Tapi nafas Allah itu yang menjadikan manusia “hidup”. Sehingga skenario Allah untuk menciptakan manusia jelas memiliki tujuan
Mengapa Pria terlebih dahulu diciptakan, dengan diambil langsung dari Debu ? Karena Pria nantinya akan menjadi Kepala Keluarga atau Pria harus menjadi Fondasi Keluarga.
FONDASI ADALAH MENANGGUNG BEBAN SUPAYA YANG LAIN TIDAK RUNTUH.
Sehingga sebagai Fondasi, Pria harus mengerti :
- Prioritas Hidup yaitu menjadikan Kristus sebagai Dasar (1 Korintus 3:10-11)
- Kedudukan Pria dirancang Tuhan utk ada dalam hadirat Allah (Kejadian 2:8)
- Tugas bekerja untuk keluarga adalah sebuah liturgi kehidupan seorang Pria (Kejadian 2:15-17)
3 Hal di atas di lengkapi dengan istri yang menjadi Tiang Doa sehingga keduanya menjadi Patron bagi anak-anak, maka terciptalah keluarga yang terus menerus di berkati Tuhan.
Melalui ibadah gabungan ini, jemaat kembali diingatkan untuk hidup sesuai tujuan Allah, membangun karakter di dalam hadirat-Nya, serta menjadi pribadi yang menopang, melayani, dan menjaga keluarga serta generasi berikutnya.
Kiranya Firman Tuhan yang telah ditaburkan menjadi berkat dan kekuatan bagi seluruh jemaat.