Dunia Berlari, Jiwa Tertinggal
Pagi ini, di tengah euforia liburan Lebaran di kawasan Mega Mas, saya berjalan…
Dan di tengah langkah-langkah sederhana itu, saya seperti mendengar satu suara dalam hati:
dunia sedang berlari, tetapi banyak jiwa tertinggal.
Hari-hari ini manusia sibuk mengejar banyak hal.
Mengejar uang.
Mengejar target.
Mengejar pengakuan.
Mengejar pencapaian.
Tetapi ironisnya, di tengah semua yang dikejar itu, banyak orang mulai kehilangan dirinya sendiri.
Tubuhnya bergerak,
pikirannya penuh,
jadwalnya padat,
tetapi jiwanya kosong.
Dunia ini tidak pernah mengajar kita untuk berhenti.
Dunia hanya terus menekan:
lebih cepat,
lebih tinggi,
lebih banyak,
lebih terlihat.
Sampai pada satu titik, orang tidak lagi benar-benar hidup.
Ia hanya bergerak.
Ia hanya sibuk.
Ia hanya bertahan.
Karena itu pagi ini saya memilih berjalan.
Bukan sekadar menjaga tubuh tetap sehat,
tetapi menjaga hati tetap waras.
Menata napas.
Menata pikiran.
Menata jiwa di hadapan Tuhan.
Sebab saya percaya, lebih baik berjalan pelan bersama Tuhan, daripada berlari cepat tetapi kehilangan arah.
Dunia boleh berlari.
Tetapi jangan biarkan jiwa kita tertinggal.
Di tengah dunia yang makin bising, makin cepat, dan makin haus validasi, kiranya kita tetap punya keberanian untuk berhenti sejenak, memeriksa hati,
dan memastikan bahwa langkah kita tidak hanya sibuk di bumi, tetapi juga selaras dengan kehendak Tuhan.