Dari Meja Perjamuan Menuju Hidup yang Diubahkan
Minggu, 1 Maret 2026—ini bukan sekadar “hari Minggu biasa.” Ini adalah hari ketika Tuhan mengguncang kita dengan satu pertanyaan yang tidak bisa dihindari :
SIAPA yang sedang membentuk hidupmu ?
Dan lebih tajam lagi : SIAPA yang sedang membentuk cara berpikirmu ?
Di GPdI El Shaddai Newlife Church Manado, tiga Ibadah Raya (06.00 / 09.00 / 17.30) berlangsung dengan baik. Namun yang membuat hari ini berbeda adalah ini: Perjamuan Kudus hadir di setiap ibadah—seolah Tuhan sedang menarik kita kembali ke meja perjanjian dan berkata :
“Berhenti jadi penonton.
Berhenti hidup setengah-setengah.
Kembali ke salib. Kembali ke Aku.”
Worship Leader:
Ibadah Raya 1 – Eliza Sumual
Ibadah Raya 2 – Martin Asaluy
Ibadah Raya 3 – Pdt. Tonny Waney
Firman Tuhan disampaikan oleh Gembala, Pdt. Haezar Sumual, mengacu pada Fokus 2026 yang menjadi DNA perjuangan gereja ini:
DIGITAL – DISIPLIN – DISALIB.
Gembala menegaskan :
Di zaman DIGITAL, banyak orang merasa “punya iman,” padahal yang mereka punya cuma kebiasaan beribadah. Banyak orang merasa “rohani,” padahal pikirannya sedang dipimpin oleh arus—bukan oleh Firman.
Karena masalah terbesar hari ini bukan kekurangan informasi rohani. Masalah terbesar hari ini adalah pikiran kita dibentuk oleh suara yang salah.
Kita terlalu sering :
• cepat percaya yang viral, lambat percaya Firman
• cepat panik karena berita, lambat tenang karena
janji Tuhan
• cepat tersulut emosi, lambat bertobat
• cepat menilai orang, lambat mengoreksi diri
Lalu Tuhan membawa kita ke Perjamuan Kudus dan seperti berkata :
“Kalau kamu masih membiarkan pikiranmu dibentuk dunia, maka roti dan anggur hanya akan jadi ritual.
Tapi kalau kamu menyerahkan pikiranmu kepada-Ku,
maka hidupmu akan berubah mulai hari ini.”
DIGITAL menuntut kesadaran.
DISIPLIN menuntut ketegasan.
DISALIB menuntut kematian manusia lama.
Karena di salib, ego dipatahkan. Di salib, cara pikir lama dikuburkan. Di salib, kita tidak lagi hidup untuk menyenangkan dunia—tetapi untuk menyenangkan Tuhan.
Sebelum Firman, kesaksian dari Bpk. Hendry Walewangko dan Ibu Erni Luntungan (Seattle, USA) menjadi tanda : Tuhan tetap setia bekerja melampaui jarak, bangsa, dan musim hidup. Tuhan yang sama yang memegang mereka, memegang kita hari ini.
Dan ibadah ditutup bukan dengan formalitas, tetapi dengan doa yang mengikat hati sebagai satu keluarga rohani :
Pdt. Martin Asaluy, S.Sos — Mitra Gembala &
Ketua Rayon Sinai — genap 52 tahun tepat hari itu.
Frinenda Tumbel yang beberapa hari lalu berulang
tahun juga didoakan.
Hari itu kita pulang dengan satu pesan yang menggema :
Kalau pikiranmu tidak disalibkan, hidupmu tidak akan pernah diubahkan. Kalau kamu tidak kembali ke meja perjanjian, kamu akan dibentuk oleh dunia tanpa sadar.
Dan gereja ini memilih satu jalan :
Bukan jalan nyaman. Tetapi jalan salib.
Dari Meja Perjamuan—menuju hidup yang diubahkan.
Soli Deo Gloria.