"Berdiri di Hadapan Sejarah :
100 Tahun yang Tidak Bisa Diulang”
Ada peristiwa-peristiwa tertentu yang bagi saya pribadi tidak pantas disebut sekadar acara. Terlalu dalam untuk disebut hanya seremonial. Terlalu besar untuk dianggap cuma perayaan biasa. Dan itulah yang saya rasakan ketika menghadiri ibadah syukur Hari Ulang Tahun ke-100 Pdt. Ernest Wilar, Gembala Senior GPdI El Gibor Kayuuran Bawah, Langowan Selatan.
Jujur, hati saya tidak sekadar tersentuh. Hati saya diguncang. Karena yang saya hadiri hari itu bukan hanya ulang tahun seorang bapak tua. Saya sedang berdiri di hadapan sebuah sejarah yang masih hidup,
sebuah monumen kesetiaan, sebuah jejak pelayanan yang tidak bisa dibuat-buat, dan sebuah bukti bahwa Tuhan sanggup mempertahankan hamba-Nya sampai garis akhir.
Ibadah itu berlangsung sangat khidmat, tetapi sekaligus penuh kemuliaan dan kehormatan. Ketika Pdt. Ernest Wilar menyampaikan kesaksiannya, jemaat dan seluruh undangan berkali-kali memberikan aplaus.
Tetapi yang lebih mengguncang saya bukan hanya usia 100 tahun itu. Yang mengguncang saya adalah kenyataan bahwa hampir 60 tahun beliau menjadi gembala sidang, dan sebelumnya sekitar 10 tahun sudah praktik dan membantu pelayanan. Artinya, kurang lebih 70 tahun hidupnya ditaburkan bagi pekerjaan Tuhan.
Tujuh puluh tahun melayani.
Tujuh puluh tahun menjaga mezbah.
Tujuh puluh tahun menggembalakan jemaat.
Tujuh puluh tahun berdiri di jalur panggilan.
Ini bukan pelayanan musiman. Ini bukan semangat sesaat. Ini bukan pengabdian yang lahir karena panggung. Ini adalah hidup yang benar-benar dibakar habis untuk Tuhan. Dan di tengah zaman yang serba instan, serba cepat menyerah, dan serba mudah pindah arah, hidup seperti ini bukan hanya langka—
hidup seperti ini adalah teguran keras bagi generasi hari ini.
Di atas panggung, Pdt. Ernest Wilar duduk didampingi oleh delapan anaknya. Bagi saya, itu bukan sekadar foto keluarga. Itu adalah pemandangan rohani yang sangat kuat. Seorang ayah duduk di tengah buah hidupnya, buah doanya, buah perjuangannya, buah kesetiaannya. Dan yang lebih indah lagi, tongkat estafet pelayanan itu tidak putus, tidak patah, dan tidak jatuh ke tanah. Hari ini pelayanan dilanjutkan oleh anak beliau, Pdt. Aril Wilar, S.Th., bersama Ibu Rohani Eva Lumingas, S.Th.
Di bawah panggung duduk para menantu, cucu, bahkan cicit. Dan dalam hati saya berkata: inilah bukti bahwa hidup yang dibangun di atas altar tidak akan berhenti pada satu generasi. Ada warisan. Ada jejak.
Ada api. Ada estafet. Ada mezbah yang tidak padam.
Tidak semua orang tua meninggalkan warisan rohani seperti ini. Tidak semua pelayan Tuhan menua dengan kehormatan seperti ini. Tidak semua orang mencapai usia lanjut dengan kasih, respek, dan pengaruh yang tetap hidup. Tetapi pada diri Pdt. Ernest Wilar, saya melihat satu hal yang sangat jelas:
orang yang setia kepada Tuhan tidak akan pernah sia-sia.
Firman Tuhan dalam ibadah syukur itu disampaikan oleh Pdt. Dr. Loudewiek Saerang, dari Jabar. Sesudah firman Tuhan, Ketua Majelis Daerah GPdI Sulut, Pdt. Ivonne Indrya Awuy, memimpin doa ulang tahun sekaligus penumpangan tangan, lalu diikuti oleh para hamba-hamba Tuhan yang hadir. Suasana saat itu sungguh penuh hormat, penuh haru, dan penuh wibawa rohani.
Saya merasakan bahwa momen itu bukan sekadar mendoakan seseorang yang bertambah usia.
Itu adalah penghormatan terbuka kepada seorang senior, seorang ayah rohani, seorang saksi hidup yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya bagi Tuhan dan gereja-Nya.
Sambutan demi sambutan makin menegaskan bahwa hari itu bukan hari biasa. Ketua Majelis Daerah Sulut, Pdt. Ivonne Indrya Awuy, menyampaikan sambutan dengan penuh penghormatan. Atas permintaan keluarga, Ketua MD GPdI Sulteng, Pdt. Dr. Franky Rewah, menyampaikan sambutan mewakili seluruh undangan. Sambutan terakhir disampaikan oleh Camat Langowan Selatan, dan doa berkat dibawakan oleh Wakil Ketua MD Sulut, Pdt. John Awuy, S.Th.
Semua tersusun indah, terhormat, dan penuh makna—seolah langit, gereja, keluarga, dan para pemimpin sama-sama berdiri untuk memberi hormat kepada seorang veteran rohani yang telah menuntaskan panggilannya dengan luar biasa.
Bagi saya pribadi, ada sisi lain yang membuat momen ini terasa jauh lebih dalam. Enam tahun lalu, ketika saya diundang melayani di tempat ini, Pdt. Ernest Wilar pernah bercerita kepada saya bahwa beliau adalah sahabat dari almarhum ayah saya, Pdt. Nicky J. Sumual.
Dan kalau ayah saya masih hidup hari ini, usia mereka hanya terpaut sekitar dua tahun, dengan Pdt. Ernest Wilar lebih tua. Setiap kali saya mengingat cerita itu, hati saya seperti disentuh ulang oleh Tuhan.
Karena saya merasa sedang berdiri di depan salah satu tokoh tua yang masih menyimpan jejak generasi sebelumnya—generasi yang mungkin makin sedikit jumlahnya, tetapi nyala apinya belum padam.
Saya seperti tidak sedang menatap seorang yang berulang tahun. Saya seperti sedang menatap penjaga api, saksi zaman, penjaga mezbah,
seorang hamba Tuhan yang hidupnya berbicara jauh lebih keras daripada suaranya sendiri.
Saya juga bersyukur, karena pelanjut estafet pelayanan dari Pdt. Ernest Wilar, yaitu Pdt. Aril Wilar, S.Th. dan Ibu Rohani Eva Lumingas, S.Th., adalah Alumni STT/ISTTI El Shaddai Sario Manado. Itu menjadi sukacita tersendiri bagi saya.
Selain itu, pengerja yang sudah 11 bulan ditempatkan oleh Pimpinan Sekolah Alkitab Langowan, yaitu Silvana Tau, yang saat ini melayani di GPdI El Shaddai Newlife Church Manado, juga memiliki hubungan dengan jemaat ini, karena ibunya adalah pelayan di GPdI El Gibor Kayuuran Bawah.
Bagi saya, ini bukan kebetulan. Ini seperti Tuhan sedang memperlihatkan bahwa benang-benang pelayanan itu saling terhubung, saling bertemu, dan saling menguatkan dalam rencana-Nya.
Itulah sebabnya, walaupun pada siang hari saya harus memimpin ibadah pemakaman seorang gadis berusia 17 tahun di GPdI El Shaddai Newlife Church Manado, pada sore harinya saya bersama istri tetap berusaha memenuhi undangan yang dibawa langsung oleh Gembala dan Ibu Rohani GPdI El Gibor Kayuuran Bawah.
Saya merasa saya harus hadir. Bukan sekadar datang memenuhi undangan. Tetapi datang memberi hormat. Datang menghargai. Datang menyaksikan dengan mata kepala sendiri seorang hamba Tuhan yang sudah menghabiskan hampir seluruh hidupnya bagi gereja dan pekerjaan Tuhan.
Bagi saya, Pdt. Ernest Wilar bukan hanya sedang berulang tahun. Beliau sedang menjadi saksi bahwa Tuhan setia. Beliau sedang menjadi bukti bahwa umur panjang di tangan Tuhan bisa berubah menjadi warisan rohani yang luar biasa. Beliau sedang memperlihatkan kepada kita semua bahwa orang yang tetap setia melayani Tuhan tidak akan dipermalukan oleh waktu.
Selamat ulang tahun ke-100, Pdt. Ernest Wilar.
Tuhan yang sudah memelihara, menopang, menyertai, dan memakai hidup Bapak sampai hari ini akan tetap menjadi bagian Bapak untuk selamanya. Terima kasih untuk jejak kesetiaan. Terima kasih untuk warisan iman. Terima kasih untuk teladan pengabdian yang Bapak tinggalkan. Generasi kami belajar banyak dari hidup Bapak.
Hari itu saya tidak merasa sedang menghadiri ulang tahun biasa. Saya merasa sedang menyaksikan sebuah sejarah yang masih hidup. Dan terus terang, tidak semua orang mencapai usia 100 tahun.
Tetapi lebih dari itu—tidak semua orang mencapai usia 100 tahun dengan kehormatan, pengaruh, warisan, dan kemuliaan seperti ini