Ada doa yang kita panjatkan dengan air mata.Ada harapan yang kita genggam sampai detik terakhir.
Kami sudah berdoa.
Kami sudah berharap.
Kami sudah membawa sampai ke batas manusia.
Tetapi pada akhirnya, Tuhan memilih jalan-Nya sendiri.
Rabu, 29 April 2026, pukul 08.50,
Ibu Yanni Pangindah Tewal berpulang.
Kami minta kesembuhan,
Tuhan memberi kelegaan kekal.
Kami minta mukjizat,
Tuhan memberi penyelesaian hidup.
Perjalanan dari sehat, lalu sakit, rumah sakit, Manado, Jakarta, Penang, lalu kembali lagi…
semuanya bukan kebetulan.
Semuanya ada dalam genggaman tangan Tuhan.
Kepada anak-anak yang ditinggalkan: Calvin, Harvey, dan Dado — tetap kuat, tetap berdiri, tetap maju dalam iman.
Air mata hari ini jangan menjadi tanda kekalahan, tetapi menjadi saksi bahwa kasih seorang ibu tidak pernah mati, dan iman kepada Tuhan tidak boleh berhenti.
Hari ini kita belajar :
yang pergi sudah tenang, yang tinggal harus semakin kuat. yang pulang sudah selesai, yang masih hidup harus terus berjalan.
Selamat jalan, Ibu Yanni Pangindah Tewal.
Engkau tidak kalah.
Engkau pulang.
Tuhan tidak pernah salah.
Dia hanya bekerja dengan cara yang tidak selalu kita mengerti.